Kamis, 11 Juli 2019

Hanya Dengan Berimajinasi, Ternyata Dapat Meraih Mimpi! Yuk Intip Tipsnya!


            Siapa sangka ternyata dengan berimajinasi kita bisa meraih mimpi? Baru tau kan? Saya pun juga baru mengetahuinya. Belajar dari buku Napoleon Hill dengan judul Road to Success. Dalam buku tersebut dipaparkan dari kisah Henry Ford yang dapat meraih kesuksesan dan mimpi hanya dengan berimajinasi.
            Siapa yang tidak mengenal Henry Ford? Seseorang yang dikenal karena sebagai Pendiri Ford Motor Company. Berawal dari berimajinasi, Henry Ford sukses menjadi pendiri Ford Motor Company.

            Dibalik penghasilan jutaan dolar, Henry Ford pernah berimajinasi memiliki penghasilan jutaan dollar di saat kondisinya belum kita lihat sekarang. Henry Ford membayangkan memiliki penghasilan jutaan dollar karena ia membayangkan jutaan dolar dan menuntut dirinya untuk membuat usaha yang cerdas.
            Dibalik imajinasinya, Henry Ford juga menuntun dirinya agar imajinasi yang pernah terlintas dalam pikirannya akhirnya menjadi nyata. Disaat Henry berimajinasi memiliki penghasilan jutaan dollar, justru para ahli mesin lain di tempat Ford bekerja hanya membayangkan amplop pembayaran upah mingguan dan hal itulah yang mereka dapat. Mereka tidak menuntut apa-apa dari diri mereka yang bisa membantu mereka mendapatkan penghasilan lebih banyak.
            Disaat para ahli mesin yang bekerja dengan Henry hanya membayangkan amplop pembayaran upah mingguan tanpa menuntut diri mereka, Henry justru memikirkan bagaimana Henry bisa memiliki penghasilan jutaan dollar dengan menuntut lebih banyak. Namun, jangan salah! Justru tuntutan itu harus ditujukan kepada diri sendiri saat memiliki imajinasi yang tinggi untuk meraih kesuksesan.
            Hanya dengan berimajinasi, ternyata dapat meraih mimpi jika kita bisa menuntut diri sendiri agar imajinasi yang mampir dalam diri kita bisa menjadi nyata. Berawal dari imajinasi, kemudian dilanjutkan dengan tindakan dan kerja keras, saat itu pula langkah demi langkah kita bisa mencapai garis finish dalam meraih mimpi.

Sumber: Napoleon Hill. 2011. Road to Success. Jakarta: Kompas Gramedia


Selasa, 09 Juli 2019

Jangan Minder Jika Belum Pintar, Ternyata Faktor Kesuksesan Bukan Hanya Bermodalkan Kepintaran

            Hai sahabat, masih minder karena otak belum juga encer dan seringkali dibully serta dibanding-bandingkan sama teman atau saudara yang jauh lebih pintar? Tenang, tak usah bersedih, karena ternyata kepintaran bukanlah salah satu faktor utama dalam meraih kesuksesan.
            Disini saya bukan mengajari untuk tidak belajar biar tidak pintar, namun disini saya mengambil pelajaran dari buku karya Napoleon Hill dengan judul Road to Success. Dalam buku tersebut saya juga disadarkan ternyata faktor kesuksesan bukan hanya bermodalkan kepintaran.
            Pintar memang penting, namun bermodalkan pintar saja juga belum cukup untuk meraih kesuksesan. Belajar dari kisah Milo C. Jones dari Wisconsin yang terbelenggu kelumpuhan. Ia bahkan tidak bisa membalikkan badannya di ranjang tanpa dibantu, ia tidak bisa bergerak bahkan seluruh tubuhnya hampir tidak berguna. Berbaring terlentang, Jones membuat otaknya menciptakan rencana yang pasti. Rencana itu biasa dan sederhana, tetapi sifatnya pasti dan itu merupakan rencana.
            Saat tubuhnya lumpuh dan tidak bisa bergerak, ia pun memutuskan untuk memulai bisnis sosis. Ia memanggil keluarganya untuk memberi tau mereka mengenai hal itu dan mulai mengarahkan mereka untuk mewujudkan rencana menjadi tindakan. Semua itu dimulai saat dirinya lumpuh dan tidak mungkin menghasilkan uang dengan tangan atau tubuh fisiknya.
            Selama 10 tahun berjalan, bisnisnya mulai besar dan mengumpulkan keuntungan yang banyak. Berawal dari ide sederhana, Jones bisa meraih kesuksesan walaupun tubuhnya juga terbaring tak berdaya. Disini kita bisa belajar, bahwa kesuksesan bukan hanya diraih pada orang pintar saja, namun juga bisa diraih oleh orang yang bahkan memiliki tubuh yang kurang sempurna.
            Jadi, jangan minder jika belum pintar, karena faktor kesuksesan bukan hanya bermodalkan kepintaran, namun juga bermodalkan ide sederhana yang berawal dari rencana kemudian melakukan tindakan sampai akhirnya dapat meraih kesuksesan. Pintar dalam akademik juga penting, namun cerdas dalam mengolah emosi dan melihat peluang yang ada disekitar serta tindakan jauh lebih penting.

Sumber: Napoleon Hill. 2011. Road to Success. Jakarta: Kompas Gramedia

Senin, 08 Juli 2019

Satu Permintaan yg Seringkali Kita Lupakan untuk Mendapatkan Kebahagiaan


            Seringkali kita meminta banyak hal padaNya bukan? Terutama meminta agar selalu diberi kebahagiaan. Namun, seringkali hati pun belum juga menerima ketenangan dan kebahagiaan. Lalu, apa sebenarnya arti dari sebuah kebahagiaan? Apakah kita menerima semua apa yang kita inginkan dengan mudah lalu hati kita akan bahagia? Coba kita renungkan kembali, apakah dengan menerima apa yang kita harapkan akan memberikan kebahagiaan pada hati kita?
            Kebahagiaan seringkali kita dambakan, namun juga belum kunjung datang. Seringkali kita berharap agar kita mendapatkan kebahagiaan, namun yang datang malah kesedihan. Ketika kita meminta banyak hal padaNya, seringkali kita lupa untuk meminta satu hal yang akan membuat diri kita bahagia.

            Ya, bahagia ternyata bukan semakin banyak kita mendapatkan apa yang kita inginkan maka kita akan semakin bahagia, namun kebahagiaan datang saat kita meminta satu hal, meminta kecerdasan untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita. Napoleon Hill mengatakan “Kami tidak meminta apa pun kecuali kecerdasan untuk memahami apa yang terjadi di sekitar kita. Tidak seorang manusia pun membutuhkan hal lain kecuali hati yang penuh pengertian, karena dari hati inilah datanglah segal hal lainnya yang dapat digunakan manusia.”
            Saya sependapat dengan apa yang dikatakan Napoleon Hill, seringkali kita meminta banyak hal namun kita lupa untuk meminta agar diberikan kecerdasan dalam memahami apa yang terjadi di sekitar kita. Saat kita memiliki kecerdasan dalam memahami apa yang terjadi di sekitar kita, saat itupula kita akan selalu paham bahwa kebahagiaan akan datang saat kita selalu mengerti dan memahami bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang materi. Banyak diluar sana yang kurang seberuntung diri kita, namun mereka memiliki rasa syukur yang jauh lebih tinggi dari kita. Lalu, mengapa kita masih belum juga bahagia?

            Satu permintaan yang seringkali kita lupakan untuk mendapatkan kebahagiaan, yaitu kita lupa meminta kecerdasan untuk memahami apa yang terjadi disekitar kita. Saat kita dapat memahami apa yang terjadi disekitar kita, saat itu pula rasa syukur kita akan bertambah dan kita akan merasa selalu bahagia. Semoga bermanfaat. Semoga rasa syukur selalu ada dalam hati kita dan semoga kebahagiaan selalu ada dalam diri kita. Aamiin.  

Sumber: Napoleon Hill. 2011. Road to Success. Jakarta: Kompas Gramedia

Minggu, 07 Juli 2019

Penyebab Bahagia Belum Juga Menghampiri

                   Kebahagiaan yang datang seringkali menjadi dambaan setiap orang, terutama dambaan kita semua. Kebahagiaan menjadi sesuatu yang sangat diidam-idamkan setiap orang, lalu apakah wujud dari kebahagiaan? Berulangkali kita mencari kebahagiaan dalam hati, mencari setiap hari, tanpa kenal lelah kita selalu mencarinya, namun kita belum menemukannya juga. Kebahagiaan hati menjadi sebuah impian yang tak kunjung juga menghampiri seringkali membuat diri kita sedih. 
            Lalu, apakah penyebab bahagia belum juga menghampiri? Apakah kebahagiaan sama seperti sebuah bayangan? Yang semakin dikejar maka dia akan semakin menjauh? Ataukah kebahagiaan sama seperti kupu-kupu? Yang semakin dikejar dia akan semakin menjauh? Ya, kita masih mencarinya dan memikirkannya bagaimana kebahagiaan itu datang tanpa kita mencarinya.

            Kita selalu mencari rezeki setiap waktu dan berharap kebahagiaan itu akan menghampiri untuk membahagiakan hati, namun yang ada kadang kesedihan masih juga menghampiri. Kita mencari kebahagiaan kesana kemari, namun masih saja kegelisahan menghampiri, lalu bagaimana caranya agar kebahagiaan bisa menghampiri tanpa kita mencari?
            Sahabat, saya juga mengalaminya, mencari sebuah kebahagiaan kesana kemari namun kebahagiaan itu belum juga menghampiri. Namun, saat saya dalam perjalanan pulang di hari yang sudah senja, matahari yang sudah pamit untuk menyinari, saat itu pula saya disadarkan bagaimana caranya kebahagiaan itu bisa menghampiri.

            Semakin menikmati perjalanan di sore hari, semakin mempesona keindahan alam yang sudah tersaji dan saat itu pula hati terasa ditampar namun membuat tenang hati ini. Ternyata, penyebab bahagia belum juga menghampiri itu terjadi karena kita belum juga mensyukuri nikmat yang sudah diberi. Begitu banyak nikmat yang sudah diberi, namun belum juga bisa mensyukuri. Astahfirullah hal adzim.
            Sahabat, ternyata kebahagiaan itu datang menghiasi hati saat kita menikmati keindahan alam yang sudah tersaji. Salah satu dari berbagai nikmat yang tidak bisa kita beli, memandang keindahan alam yang sudah tersaji, dengan terus memahami bahwa keindahan alam merupakan berjuta kenikmatan yang seringkali tak kita sadari. Ya, penyebab kebahagiaan belum juga menghampiri karena kita terlalu fokus mencari apa yang belum kita miliki, namun kita tidak menyadari apa yang sudah kita miliki.

Rabu, 26 Juni 2019

Masih Belum Bersyukur dalam Menjalani Hari? Yuk Baca dan Instrospeksi Diri



            Jarum jam terus berjalan, setiap detiknya selalu memiliki cerita yang berbeda dalam kenangan kehidupan kita. Ada saatnya dalam detik ini kita bahagia, namun beberapa detik berikutnya hati kita gundah gulana. Suasana hati memang tidak bisa kita tebak. Ada saatnya kita tiba-tiba bahagia, namun ada saatnya kita sedih namun tak tau alasannya.
            Jika kita terus belajar, keluar dari aktivitas rutin kita sejenak, saat itu kita akan diingatkan ketika suasana hati sedang gundah gulana. Keuangan yang tidak stabil, cerita tentang hati yang mendapatkan rasa kecewa, sedih berkepanjangan akan membuat diri kita akan larut dalam kesedihan dan rasa syukur pun akan berkurang. Masih belum bersyukur dalam menjalani hari?

            Mata yang bisa menikmati keindahan fenomena alam. Telinga yang bisa mendengar indahnya kumandang adzan, lantunan ayat suci Al Qur'an yang menentramkan. Hidung yang bisa menghirup udara segar. Kaki yang bisa melangkah sempurna untuk menggiring kita menikmati alam lebih jauh dari sebelumnya. Tangan yang bisa mengabadikan berbagai fenomena yang nantinya dapat dikenang. Dan kesehatan yang bisa membuat diri kita melakukan aktivitas tanpa ada hambatan.(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)
Bukankah itu semua rezeki yang tak terhingga harganya? Namun seringkali kita tak menyadarinya. Astaghfirullah hal adzim. Saat kita lebih fokus memikirkan apa yang belum kita miliki, saat itu kita harus sadar bahwa banyak sekali kenikmatan yang sudah diberi, namun seringkali kita tidak menyadari. Saat kita mudah sedih, karena membandingkan antara orang lain dan diri sendiri, saat itu kita tidak akan pernah mensyukuri apa yang sudah menghampiri dalam kehidupan ini.

            Hidup bukan hanya memikirkan tentang apa yang belum bisa kita capai, namun hidup tentang bagaimana kita selalu mensyukuri apa yang sudah diberi. Saat kita menikmati semua yang sudah diberi, saat itu pula kebahagiaan akan selalu menghiasi hati.
            Saat banyak sekali cemoohan orang lain datang menghiasi telinga kita dan kita memikirkan itu semua, lalu bagaimana kita bisa menikmati berbagai macam kenikmatan yang sudah diberikan pada diri kita? Oksigen yang kita hirup tak berbayar, keindahan alam yang indah seringkali tersaji, namun kita belum juga menikmati, karena kita terlalu fokus memikirkan impian atau keinginan yang belum juga menghampiri.

            Banyak sekali kenikmatan yang sudah kita dapatkan, namun seringkali kita tak menyadarinya dan terus larut dalam kesedihan. Masih belum bersyukur dalam menjalani hari? Segera keluar untuk menikmati keindahan alam yang sudah tersaji, saat itu kita akan malu sama diri sendiri karena mengeluhkan hari-hari dan kurang bersyukur apa yang sudah tersaji. Astaghfirullah hal adzim.


Selasa, 25 Juni 2019

Belajar dari Terbitnya Karya Pertama Bagi Pejuang Skripsi






            Hai Sahabat, bagaimana kabar kalian? Semoga selalu sehat ya dan semoga selalu berada dalam lindunganNya. Aamiin. Kali ini saya akan membahas mengenai pengalaman pertama dalam menerbitkan karya pertama saya yang berhasil lolos di penerbit. Bagi yang ingin menjadi penulis atau karyanya ingin diterbitkan pasti pengen banget bukan jika itu juga terjadi pada sahabat semuanya? Namun jangan salah, ternyata menerbitkan karya tidak semudah kita memasak mie instant. Wehehe.
            Sejak masuk organisasi kepenulisan dan mulai jatuh cinta sama pena, saat itu saya semangat-semangatnya dalam merangkai kata, dan tidak disadari ternyata tulisan saya sudah menjadi dua karya, namun karya yang sudah saya tulis belum berhasil diterbitkan oleh penerbit impian saya. Sedih sekali kan? Nulis selama setahun dapat dua karya, eh malah tidak bisa dibaca sama khalayak umum dan cuma bisa dibaca sama diri sendiri.

            Perjalanan dalam menerbitkan karya pertama memang cukup panjang. Saat kumpulan tulisan sudah tertata rapi dan menjadi dua naskah, saya pun ingin menerbitkan dua naskah saya tersebut. Pertama, pada bulan november 2015, saya mengirimkan naskah pertama saya pada penerbit yang paling saya kagumi, eh setelah nunggu tiga bulan naskah ditolak. Pasti sakit ya sahabat jika naskah yang sudah kita tulis dengan terus mencari inspiasi, butuh waktu yang banyak, eh namun ujung-ujungnya ditolak, dalam sekejap hati ini hancur berkeping-keping.
            Setelah mengalami penolakan di penerbit pertama, saya pun terus semangat untuk merevisi, dan kemudian bulan berikutnya saya mengirimkan lagi di penerbit yang berbeda, namun ternyata ditolak lagi. Saat naskah pertama ditolak dua penerbit rasanya hati ini lebih hancur.

            Oke, akhirnya saya beralih ke naskah kedua yang cukup terendap seperti ampasnya kopi dibawah gelas yang sudah lama tidak diperhatikan sama mata ini. Ngomong apa ini. Okeh lanjut ke topik. Naskah kedua pun saya tata rapi, dan pada bulan februari tahun 2016 saya mengirimkan karya saya yang kedua, namun belum sampai sebulan, eh dapat penolakan cinta lagi. Saya pun harus legowo (lapang dada), karena memang saya baru jadi penulis pemula, itu pun masih perlu banyak belajar.
            Saat naskah kedua ditolak, saya kembali lagi ke naskah pertama saya. Naskah pertama penuh dengan revisi, tapi saya revisi sendiri kemudian dikirimkan lagi pada bulan april tahun 2016 di penerbit yang berbeda antara penerbit pertama dan kedua, dan sebulan lebih dapat penolakan lagi. Akhirnya saya pun pasrah sejenak, memikirkan kesalahan naskah saya yang sudah tertuliskan sejak lama, penuh dengan perjuangan dan ditolak lagi untuk keempat kalinya.

            Penolakan sebanyak empat kali tidak membuat diri saya kapok untuk terus menawarkan naskah saya, dan akhirnya dengan sikap pasrah, saya mencampuradukkan dua naskah saya yang temanya berbeda namun saya campurkan dengan menyusun topik baru laggi dan saya kirimkan ke penerbit, dan hasilnya sangatlah mengecewakan karena ditolak lagi untuk kelima kalinya. Sedih sekali ya nasib naskah saya. Wehehehe.
            Dan setelah mengalami beberapa penolakan akhirnya saya mengirimkan naskah saya yang sudah tercampur aduk antara naskah pertama dan kedua. Saya kirimkan pada bulan september 2016, saat itu saya harus menunggu selama dua bulan. Saat bulan movember 2016, saya mendapatkan email, dan akhirnya saya mendapatkan kabar bahagia, karena sekian lama masih terjebak dalam jalan yang penuh dengan kegelapan, namun akhirnya sudah menemukan sedikit titik terang. Wehehe. Naskah saya diterima namun penerimaan naskah itu membuat diri saya galau lagi, karena penerbit hanya bisa menerbitkan secara digital.

            Akhirnya saya memutuskan untuk menyetujuinya, karena daripada naskah saya nganggur, tidak ada yang baca setidaknya naskah saya bisa dibaca oleh orang-orang diluar sana melalui handphonenya. Oh iya, “kenapa sih kok tidak diterbitkan di blog saja? Kan enak bisa langsung dibaca oleh orang-orang.” Jujur saja, saya dulu tidak percaya diri sekali jika tulisan saya diterbitkan sendiri, karena takut tulisan-tulisan saya malah bisa membuat perut pembaca mules-mules ingin ke toilet. Akhirnya saya memutuskan untuk mengajukan naskah saya ke penerbit.
            Saat naskah saya diterima dan menunggu informasi selanjutnya, saya pun menulis naskah selanjutnya dan ternyata saya juga baru tau kalau untuk menerbitkan naskah tidak semudah kita masak air. Prosesnya lama, bahkan sampai hampir setahun. Tapi saya tetap bersabar, karena perjuangan tidak akan menghianati hasilnya.

            Memang benar apa kata pepatah “Jika kita mau berhasil, maka kita harus berani gagal.” Dan disinilah saya banyak belajar, ternyata kesuksesan bukan saat kita berhasil meraih apa yang kita inginkan tanpa ada tantangan, namun bagaimana keberhasilan itu bisa diraih dengan perjuangan yang kita lakukan tanpa henti dalam menghadapi berbagai macam tantangan.
            Buat sahabatku yang masih berkecimpung dengan revisinya skripsi, tetap semangat yaaaa. Yakinlah bahwa semua pasti berhasil, yakinlah bahwa nulis, revisi, coret sana sini akan memberikan pelajaran bagi diri kita, bahwa untuk mencapai sebuah keberhasilan kita harus bisa tetap bertahan saat jatuh berkali-kali. Sukses tidak membutuhkan seberapa hebat dan pintar diri kita, namun seberapa kuat kita bertahan dalam menghadapi tantangan untuk mencapai apa yang kita inginkan.

            Oh iya, bagi yang ingin membaca atau melirik karya pertama saya, silahkan klik link berikut ini https://ebooks.gramedia.com/id/buku/jomblo-no-problemSelamat beraktivitas, semoga bermanfaat catatan pena saya yang cukup amburadul tulisannya. Wehehehe. J

Kamis, 26 November 2015

TAK USAH GALAU



TAK USAH GALAU
            Galau adalah kata yang membuat para remaja menjadi ketakutan dalam mengucapkannya. Bagaikan kata yang selalu menghantui kehidupannya, karena bagi remaja, galau sama dengan ngenes. Dan sebagian besar ngenes disangkutpautkan dengan jomblo. Tega sekali para remaja menyebutkan bahwa jomblo berarti ngenes dan galau terus.
            Jomblo bukanlah alasan bagi remaja untuk galau. Kadang, banyak dari remaja lebih sering galau karena mereka berpacaran. Bagaimana tidak galau? Setiap menit selalu laporan. Setiap melakukan aktivitas selalu laporan dengan sang pacar. Setiap ngobrol dengan teman harus laporan. Bagaimana tidak galau kalau terus begitu? Setiap kegiatan selalu dipertanyakan, padahal sikap orang tua kepada anaknya tidak begitu over protective dalam segala aktivitas anaknya. Orang tua biasanya hanya menanyakan sewajarnya.
            Masihkah beralasan bahwa jomblo selalu bikin galau? Ah, jomblo tidak juga harus galau. Bagi para jomblo, kita harus menjadi jones. Jones bukan berarti jomblo ngenes, tapi jomblo happiness. :) Kenapa disebut dengan jomblo happiness? Karena jomblo tidak selalu galau. Jomblo itu bahagia, karena bahagia ketika setiap aktivitas kita tidak selalu laporan pada orang lain. Ini hidup kita, bukan hidup orang lain yang belum tentu menjadi jodoh kita.
            Kadang, kita sering melihat bahwa orang berpacaran selalu bahagia, karena setiap kegiatan selalu ditemani oleh orang yang disayanginya. Sepertinya, begitu lengkap sekali kehidupannya, kemana-mana ditemani pacar yang selalu setia, padahal apa? Pacar belum tentu akan menjadi seseorang yang menemani kita nanti. Pacar belum tentu jodoh kita, maka pacaran bukanlah jalan untuk masa penjajakan.
             Bukankah kita sudah mengetahui bahwa jodoh itu sudah menjadi rahasia Allah SWT, tapi mengapa kita masih saja melakukan hubungan yang terlarang? Bukankah kita sudah mengetahui bahwa pacaran merupakan perzinaan? Tapi mengapa masih saja menjadi alasan untuk masa penjajakan? Bukankah pacaran merupakan hal yang menjadikan kondisi menjadi lebih buruk? Mengapa? Karena setiap pertemuan dengan pacar, maka kita berlomba-lomba memperbaiki penampilan agar menjadi lebih sempurna di pandangan sang pacar.
Padahal, bukankah ketika kita berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan akan menjadi lebih buruk? Mengapa? Karena semua yang dilakukan untuk menutupi kekurangannya dengan polesan penampilannya.
            Pacaran adalah hal yang sangat dilarang, karena kita sudah mengetahui bahwa pacaran merupakan perzinaan yang dosanya cukuplah besar. Bukankah Allah SWT telah bersabda dalam QS. Al-Israa’ (17) ayat 32:
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.
Dengan firman Allah SWT pada QS. Al-Israa’ (17) ayat 32 tersebut, seharusnya kita sudah mengetahui bahwa pacaran termasuk suatu ikatan yang dapat menimbulkan dosa, karena pacaran adalah suatu hubungan tanpa ikatan yang halal dan merupakan hal perzinahan.
Pacaran, bukanlah masa penjajakan, maka apa yang harus dibanggakan? Pacaran hanya bisa menambah dosa bagi diri kita. Pacaran tidak akan membuat diri kita bahagia, karena hanya akan menimbulkan dosa saja. Pacaran juga bisa memberikan dampak bagi diri kita, karena waktu yang ada akan menjadi sia-sia karena pacaran. Bayangkan saja, setiap hari, jam, menit, bahkan detik, semua aktivitas kita laporkan pada pacar. Bukankah Allah SWT telah memberikan kita kesempatan waktu agar kita bisa berubah menjadi pribadi lebih baik lagi dari sebelumnya? Tapi mengapa kita malah menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan?
Kita harus tau, bahwa pacaran itu perbuatan dosa, jadi apakah masih ingin melanjutkan untuk pacaran? Apakah masih bangga untuk memamerkan pacar? Apakah masih tidak takut dosa karena pacaran? Apakah tidak malu selalu bersama dengan seseorang yang belum tentu nanti jodohnya? Sudahlah, waktu kita sangat berharga, maka jangan buang-buang waktu untuk hal-hal yang hanya bisa menambah saldo rekening dosa, yang hanya bisa membuat pikiran kita menjadi lelah, dan hanya bisa membuat hati kita sering merasakan sakit hati karena cinta.
Tak usah galau bila masih sendiri, karena kita tidak hidup sendiri. Bukankah kebahagiaan bisa datang kapan saja dan dimana saja? Mengapa masih galau juga? Pacar bukanlah sumber utama kebahagiaan bagi kehidupan, karena kita juga bisa hidup jika tanpa pacar. Jika memang cinta, maka pacaran bukanlah jalannya. Masih ada jalan lain untuk mengungkapkan cinta, seperti halnya akad nikah. Karena akad nikah bisa memberikan kehidupan kita lebih bahagia. Mengapa? Karena hubungan yang terjalin sudah halal dan tidak ada dosa yang mengelilinginya. Jika kita yakin bahwa jodoh itu akan datang, mengapa masih mengharapkan status pacaran? Bukankah dengan pacaran itu tandanya kita tidak percaya bahwa jodoh sudah menjadi ketentuan?
Sudahlah, tak usah galau. Kalaupun dia yang namanya selalu kita sebut dalam doa tidak datang juga, maka yakinlah bahwa Allah SWT akan menggantikan seseorang yang nama kita selalu disebut dalam doanya, doa pendamping hidup kita kelak. Tak perlu galau, lebih baik perbaiki diri, lebih mendekatkan diri pada Sang Illahi. Insya Allah akan ada seseorang yang datang untuk meminang diri ini. Galau sudah bukanlah solusi bagi yang masih sendiri, karena nanti akan ada yang menghampiri dan meminang untuk menjalin hubungan yang pasti.
Tak perlu galau, Hidup kita cuma sekali, maka nikmati hidup ini dengan selalu memperbaiki diri. Dan percayalah bahwa nanti kita akan mendapatkan seseorang yang baik sesuai dengan pribadi kita tanpa ada masa pengenalan dengan cara pacaran, karena seseorang yang baik masa perkenalannya tidak melalui pacaran, tapi melalui wali yang akan menjadi saksi kehalalan. :)
 
Kalau bahagia itu sederhana, mengapa mesti galau yang luar biasa? Kalau jomblo itu bisa bahagia, mengapa masih memilih hubungan yang tidak halal? Bahagia itu, puasa pacaran sampai nanti akad nikah. :) Setuju?


 Oleh: Fidia Nur Wahyu Diana

Mohon koreksinya untuk teh www.ernawatililys.com
Kritik dan saran sangat diharapkan untuk membangun tulisan menjadi lebih baik lagi. :)
Terima kasih. :)



Papua, Destinasi Wisata yang Menjadi Tempat Idaman dan Masih dalam List Impian!

         pesona.travel     Papua, terkenal dengan hutan alami yang masih belum banyak terjamah tangan manusia seperti pulau-pulau ...